Janganlah Berbuat Jahat, Perbanyak Kebajikan, Sucikan Hati dan Pikiran, Inilah Ajaran Para Buddha >>>>> Sebutan Yang Paling Indah Adalah Buddha, Kata-kata Yang Paling Merdu Adalah Paritta, Media Yang Paling Baik Adalah Tipitaka, Senam Paling Sehat Adalah Puja, Diet Paling Sempurna Adalah Athasila, Perjalanan Paling Indah Adalah Menjadi Bikkhu, Khayalan Paling Indah Adalah Ingat Kamma<<<<<

Pesan Waisak 2558 CE / 2014 Sangha Agung Indonesia

PESAN WAISAK 2558 BE/2014
    SANGHA AGUNG INDONESIA
    Namo Sanghyang Ādi Buddhaya
    Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā Sambuddhassa
    Namo Sabbe Bodhisattāya-Mahasattāya
    
    “BUDDHA MEMIMPIN KITA HIDUP BERKESADARAN”
Waisak Purnamasiddhi telah tiba, semua umat Buddha mengingat dan merenungkan makna spiritual dan semangat yang terkandung dalam tiga peristiwa besar: Pertama Pangeran Siddharta Gotama di Lumbini, di taman yang indah. Beliau adalah Bodhisattva yang turun ke bumi dari surga Tusita untuk menjadi Buddha. Kedua dari Pencapaian Pencerahan petapa Siddharta Gotama berhasil mewujudkan Nibbana dan menjadi Samyaksambuddha di Bodhgaya, di bawah pohon Bodhi. Yang ketiga, parinibbana Buddha Gotama di Kusinara, di antara dua pohon Sala kembar. Peristiwa yang terjadi pada bulan Waisak merupakan totalitas kehidupan yang penuh dengan dedikasi dan karya besar bagi kemanusiaan, peradaban, dan alam semesta.
Setiap peristiwa dalam kehidupan Buddha memberikan pelajaran komprehensip kesadaran terhadap realitas-realitas kehidupan manusia, tentang keterikatan pada usia tua, kesakitan (penyakit), dan kematian, serta mengajarkan pentingnya perenungan yang mendalam dan pikiran kritis. Kesadaran (Buddha) mengingatkan akan ketidaksadaran terhadap kehidupan yang tenggelam  dalam aneka kesenangan dan masalah-masalah yang rendah, dan terlena pada keasyikan besar yang menggoda pada setiap saat dalam kehidupan. Pencapaian
Pencerahan Buddha mengajarkan kebijaksanaan dan kebebasan tertinggi dari penderitaan yang merupakan sebuah potensi inheren di dalam manusia. Energi kesadaran ini ketika dipupuk akan membantu, melindungi, dan membarikan keberanian untuk kembali kepada diri sendiri. Kesadaran penuh ini akan membawa konsentrasi, dan konsentrasi akan membawa pemahaman. Pemahaman akan membebaskan dari ketidaktahuan, kemarahan, dan keserakahan. Perhatian mental yang tepat (yonisomanasikara) menghadirkan   kebahagiaan, kedamaian, kejernihan, dan cinta kasih. Ketika bebas dari penderitaan kebahagiaan menjadi mungkin, dan bagaimana bisa bahagia ketika dilanda kemarahan, ketidaktahuan, dan keserakahan. Buddha menjawab pertanyaan devatā (S.I.42) “Setelah membunuh, apakah seseorang tidur dengan lelap? Setelah membunuh, apakah seseorang tidak bersedih? Apakah satu hal ini, O, Gotama, pembunuhan yang Engkau setujui?” Buddha Gotama menjawab “Setelah membunuh kemarahan, seseorang tidur dengan lelap; setelah membunuh kemarahan, seseorang tidak bersedih; pembunuhan kemarahan, O, Devatā, dengan akarnya yang beracun dan pucuknya yang bermadu; inilah pembunuhan yang dipuji oleh para mulia, karena setelah membunuhnya, seseorang tidak bersedih.”
Hidup berkesadaran merupakan “jalan langsung (ekayano)” yang dijelaskan dalam bagian pertama Satipatthana Sutta (M.I.56) untuk memperoleh realisasi. Buddha bersabda: “Para bhikkhu, inilah jalan langsung untuk mempurifikasikan para makhluk, mengatasi penderitaan dan ratapan, menghilangkan penderitaan (dukkha) dan penolakan, memperoleh cara sesungguhnya, merealisasi nibbana, yaitu empat satipatthana (1) merenungkan tubuh (kaya), (2) merenungkan perasaan (vedana), (3) merenungkan pikiran (citta), (4) merenungkan fenomena-fenomena (dhamma). Praktik ini dapat membantu mengatasi kelemahan sehubungan dengan lima sila (A.IV.457). Energi negatif selalu mencoba muncul, namun jika menghadirkan perhatian penuh kesadaran maka kita akan mengenalinya. Perhatian penuh kesadaran akan membantu mengenali kebiasaan-kebiasaan yang diwariskan oleh leluhur dan kedua orang tua, atau yang diperoleh selama masa kanak-kanak. Melalui napas masuk dan keluar dengan perhatian penuh kesadaran, serta berkata 'energi kebiasaan yang kukasihi, muncul kembali'. Dengan mengenali  kebiasaan itu, maka akan melemah kekuatannya. Jika muncul kembali lakukan cara yang sama, dan energi akan semakin melemah kekuatannya. Jadi tidak perlu memeranginya atau melawan, cukup kenali dan tersenyumlah kepadanya, sehingga akhirnya tidak bisa mengendalikan kita lagi.
Buddha memimpin kita hidup berkesadaran, dimana kata Buddha berarti seorang yang sadar atau seseorang yang telah terjaga, yang tahu apa yang sedang terjadi. Buddha adalah kita, dengan latihan Dharma akan menolong dan memimpin diri kita serta orang-orang sekitar agar terjaga atau tergugah dengan fakta, bahwa semua memiliki benih keterjagaan di dalam diri, dan karena itulah masih banyak harapan. Dengan keterjagaan kolektif, maka segalanya dapat bergerak dengan cepat. Sehingga, apa pun yang kita lakukan harus ditujukan untuk menghadirkan keterjagaan kolektif. Para pemimpin memiliki  benih-benih kebaikan di dalam dirinya, dan memiliki benih-benih negatif. Kemungkinan dikelilingi oleh orang-orang yang tidak tahu cara menyirami benih-benih kebaikan, dan terus menyirami benih-benih ketakutan, kemarahan, kekerasan, dan keserakahan. Karena itulah, perlu mencari cara-cara agar bersentuhan dengan para pemimpin politik, serta menolong mereka. Protes adalah satu jenis pertolongan, tetapi harus dilakukan dengan arif-bijaksana, sehingga dilihat sebagai sebuah tindakan kasih, dan bukan tindakan kebencian.
Para pemimpin politik dan bisnis memiliki banyak energi serta niat untuk memenuhi harapan-harapan mereka. Sebagian dari niat tersebut mungkin sangatlah bermanfaat; niat untuk menghentikan polusi, mengakhiri ketimpangan sosial, merestorasi kedamaian, mentransformasi serta membawa perubahan di dunia. Tetapi bukan berarti mereka juga tidak memiliki niat untuk menjadi penuh kekuasaan, penuh kesuksesan, serta terkenal. Jadi, mungkin terdapat banyak niat yang saling kontradiksi dalam diri pemimpin. Kita bisa menolong mereka agar sadar akan motivasi-motivasi mereka, serta melihat cara untuk mengharmoniskannya. Caranya adalah dengan menolong mereka mengerti dirinya sendiri. Bagus bagi seorang praktisi agar cukup rendah hati untuk mengenali bahwa dia belajar banyak tentang dirinya sendiri, tentang penderitaan, serta tentang situasi dunia ini.
Latihan untuk mendengar secara mendalam serta mengerti diri sendiri dengan baik, untuk mendengar dunia serta mengerti penderitaannya; adalah sama bagi setiap orang, baik mereka praktisi-praktisi individual, para pemimpin politik, atau para pemimpin bisnis. Banyak pemimpin bisnis yang ingin melakukan hal-hal baik, yang ingin menggunakan perusahaannya untuk lebih mempromosikan kesetaraan sosial dan kesejahteraan. Tetapi mereka menghadapi banyak kesulitan. Sebagian dari mereka harus melakukan kompromi, karena jika tidak mereka mungkin kehilangan posisi dan karir mereka. Para pemimpin memiliki kesulitan-kesulitannya sendiri. Kita tidak bisa dengan gampangnya menyalahkan mereka atas masalah-masalah dunia. Kita harus mengerti sebelum bisa menolong mereka.
Sembari mengenali manfaat pemisahan agama dari politik dan keterbatasan sistem politik dalam menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan, ada beberapa aspek ajaran Buddha yang berhubungan dekat dengan aturan politik pada masa kini. Pertama,  Buddha berbicara tentang kesejajaran semua umat manusia, dalam Aggañña Sutta (D.III.83) satu-satunya klasifikasi umat manusia, menurut Buddha didasarkan pada kualitas tingkah laku moral mereka. Kedua, Buddha mendorong semangat kerja sama sosial dan partisipasi aktif dalam masyarakat. Ketiga, karena tidak seorang pun ditunjuk sebagai penerus Buddha, anggota persamuan akan dituntun oleh Dharma dan Vinaya,  atau Aturan Kebenaran Hukum. Keempat, Buddha mendorong semangat konsultasi dan proses demokrasi.
Pendekatan Buddha terhadap kekuasaan adalah moralisasi dan penggunaan kekuasaan rakyat secara bertanggungjawab. Buddha berkhotbah tentang tanpa kekerasan dan kedamaian sebagai pesan universal. Beliau tidak menyetujui kekerasan atau pemusnahan kehidupan, dan menyatakan bahwa tidak ada hal yang disebut perang 'adil'. Buddha mendiskusikan pentingnya dan prasyarat pemerintahan yang baik. Beliau menunjukkan bagaimana negara dapat menjadi korup, memburuk, dan tidak bahagia jika kepala pemerintahan korup dan tidak adil. Beliau berbicara menentang korupsi dan bagaimana pemerintah harus bertindak berdasarkan pada prinsip kemanusiaan. Buddha bersabda: Jika penguasa suatu negara adil dan baik, para menteri menjadi adil dan baik, Jika para menteri adil dan baik, para pejabat tinggi menjadi adil dan baik, Jika para pejabat tinggi adil dan baik, para bawahan menjadi adil dan baik; Jika para bawahan adil dan baik, rakyat menjadi adil dan baik' (Aïguttara Nikaya).
Buddha bersabda (Cakkavatti Sīhanadā Sutta (D.III.60) bahwa pelanggaran susila dan kejahatan, seperti pencurian, penipuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat muncul dari kemelaratan. Para raja dan pemerintah mungkin mencoba untuk menekan kejahatan melalui hukuman, tapi sia-sia memberantas kejahatan dengan kekerasan. Dalam Kūtadanta Sutta (D.I.136), Buddha menyarankan pengembangan ekonomi sebagai pengganti kekerasan untuk mengurangi kejahatan. Pemerintah harus menggunakan sumber daya negara untuk memperbaiki kondisi  ekonomi negara tersebut. Hal ini dapat dimulai dengan pengembangan pertanian dan pedesaan, pemerintah memberikan makanan dan bibit kepada mereka. Menyediakan bantuan modal (finansial) pada pengusaha dan pedagang. Menyediakan  gaji yang memadai bagi pegawai (pekerja) untuk mempertahankan hidup layak  dengan martabat manusia. Apabila mereka melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing, maka pendapatan negara akan meningkat, negara akan aman dan  damai, rakyat berdaulat senang dan bahagia.
Buddha memberikan 10 peraturan bagi Pemerintahan yang baik,yang dikenal sebagai Dasa Raja Dharma (Ja.V.378). Sepuluh peraturan ini bahkan dapat diterapkan saat ini oleh pemerintah mana pun yang ingin memerintah negara dengan damai. Menurut peraturan ini, pemerintah seharusnya: (1) Kedermawanan atau menghindari mementingkan diri sendiri, (2) Memelihara sifat moral yang luhur, (3) Siap untuk mengorbankan kesenangan diri sendiri untuk kesejahteraan warga negara, (4) Integritas  atau tulus, jujur, dan dapat dipercaya,(5) Baik dan lemah lembut, (6) Menjalani hidup sederhana agar diteladani warga negara, (7) Bebas dari kebencian apa pun (tanpa amarah), (8) Menerapkan prinsip tanpa kekerasan, (9) Menjalankan kesabaran, dan (10) Menghormati pendapat rakyat untuk memajukan perdamaian dan keselarasan.
Berkenaan dengan tingkah laku pemerintah, Beliau lebih lanjut menasehati: (a) Pemerintah yang baik harus berlaku adil, tidak berat  sebelah dan tidak mendiskriminasi antara satu kelompok warga negara tertentu terhadap yang lainnya. (b) Pemerintah yang baik tidak menyimpan segala bentuk kebencian terhadap warga negaranya. (c) Pemerintah yang baik tidak takut terhadap apa pun dalam pelaksanaan hukum, jika hal itu adil adanya. (d) Pemerintah yang baik harus memiliki pemahaman yang jelas tentang hukum untuk dilaksanakan. Hukum tidak boleh dilaksanakan hanya karena pemerintah memiliki otoritas untuk memberlakukannya. Hal ini harus dilakukan dengan cara yang masuk akal dan dengan akal sehat (Cakkavatti Sīhanadā Sutta).
Ada banyak cara untuk mendekati para pemimpin. Kita semua tukang kayu, masinis, jurnalis, penulis, produser film, pendidik, orang tua, pengacara, perawat, bisa menulis surat, menelepon, membawa spanduk-spanduk.
Bisa mengekspresikan diri dalam cara yang bisa menghadirkan kewaspadaan serta mewujudkan pentransformasian kesadaran kolektif. Ini adalah penanganan di akarnya; yaitu mentransformasi cara berpikir, menolong semua agar memandang fenomena-fenomena dengan lebih mendalam serta jernih. Semua orang dapat melakukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Keadilan sejati harus memiliki welas-asih didalamnya. Saat seseorang melakukan sesuatu yang destruktif, maka kerusakan tidak hanya terjadi pada korban, tetapi juga pada pelaku. Semua tahu bahwa setiap kali mengucapkan sesuatu yang tidak arif-bijaksana, tutur kata yang bisa merusak hubungan dengan orang lain serta membuatnya menderita; tahu bahwa kita juga telah merusak diri sendiri, serta menciptakan penderitaan bagi diri sendiri. Hal demikian berasal dari kurangnya kebijaksanaan, kurangnya kesadaran, dan kurangnya welas asih; dan menderita seperti yang diderita orang lain. Mungkin tidak saat ini, tetapi tidak lama kemudian akan menderita. Penyebab sesungguhnya dari tindakan destruktif adalah ketidaktahuan, kurangnya  kebijaksanaan. Jika tahu cara memandang kriminal, maka akan memiliki welas-asih. Dengan welas-asih, bisa menawarkan jenis keadilan yang mengandung lebih banyak kesabaran, pengertian, dan toleransi. Tidak hanya bisa merekonsiliasi keadilan dengan welas-asih, tetapi juga bisa mendemonstrasikan bahwa keadilan sejati harus memiliki welas-asih dan pengertian di dalamnya.
Semoga momen Waisak 2558 BE ini menginspirasi menjadi pemimpin diri sendiri dengan hidup berkesadaran, mengembangkan kesadaran, mengembangkan kebaikan berhubungan dengan belajar untuk hidup dari satu hati yang tercerahkan. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


Mettacittena,  
SANGHA AGUNG INDONESIA


Mahathera Nyanasuryanadi.

Ketua Umum

[ Baca Selengkapnya... ]

Perayaan Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013

Perayaan Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013 Vihara Dhamma Sasana

Dalam rangka menyambut, memperingati dan merayakan hari raya Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013, umat Buddha Vihara Dhamma Sasana akan melaksanakan berbagai kegiatan sebagai berikut :
A. Menyambut  Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013
1. SPD (Sebulan Penghayatan Dhamma)
Menyambut Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013, umat Buddha Vihara Dhamma Sasana mengadakan kegiatan SPD (Sebulan Penghayatan Dhamma). Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari dan diisi dengan puja bakti / kebaktian, uraian Dhamma dari sesepuh Vihara Dhamma Sasana, Ketua dan Pengurus Vihara Dhamma Sasana, serta dari narasumber yang lain. Dalam kegiatan SPD ini juga diisi dengan kegiatan berlatih membaca Paritta bersama-sama, latihan menyanyi untuk dipentaskan di hari perayaan Waisak, serta berbagai kegiatan lainnya.
2. Bakti Sosial
a. Bakti sosial membersihkan makam, membersihkan lingkungan sekitar Vihara, dan membersihkan lingkungan umat.
b. Bakti sosial membantu orang yang tidak mampu. Panitia akan membagikan bingkisan Waisak kepada warga tidak mampu di lingkungan Vihara Dhamma Sasana, Dusun Krajan Desa Kenteng. Bingkisan tersebut berisi beras, telur, serta bahan sembako lainnya. Hal ini sebagai wujud kepedulian umat Buddha terhadap lingkungan karena penerima bingkisan tidak hanya umat Buddha, namun umat agama lain yang tidak mampu juga akan menerima bingkisan Waisak.
3. Selamatan
Selamatan atau tumpengan dilaksanakan di malam terakhir Sebulan Penghayatan Dhamma atau malam Waisak. Kegiatan ini merupakan tradisi yang selalu dilaksanakan dari tahun ke tahun.
4. Penyalaan seribu lilin Waisak
* masih dibahas oleh panitia, karena menyesuaikan ketersediaan dana.
B. Peringatan Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013
Di hari Waisak nanti akan diadakan puja bakti menyambut detik-detik Waisak yang akan diikuti oleh seluruh umat Buddha Vihara Dhamma Sasana.
C. Perayaan Tri Suci Waisak 2557 BE / 2013
a. Lomba untuk ibu-ibu dan anak sekolah minggu
* masih menunggu persetujuan panitia.
b. Bingkisan untuk anak sekolah minggu Buddhis
Bingkisan diberikan setelah acara puja bakti memperingati detik-detik Waisak. Bingkisan berupa tas, alat tulis / peralatan sekolah lain ini dipersembahkan oleh salah seorang umat kami yang bekerja di Kalimantan, dengan harapan supaya seluruh anak sekolah minggu semakin bersemangat merayakan Waisak dan semakin bersemangat dalam kegiatan sekolah minggu Buddhis.
3. Anjangsana
Umat Buddha Vihara Dhamma Sasana akan saling berkunjung ke rumah-rumah umat yang lain baik umat Buddha di Vihara Dhamma Sasana maupun ke rumah umat Vihara lain.
4. Dalam perayaan Waisak kali ini, umat Buddha Vihara Dhamma Sasana mengadakan iuran wajib sebesar minimal Rp. 25.000 / kepala keluarga, guna menyukseskan berbagai acara tersebut diatas.

Untuk menunjang kegiatan-kegiatan tersebut diatas, kami membuka kesempatan kepada Bapak ibu/saudara/saudari SeDhamma Untuk Menanam Jasa - Jasa Kebajikan dengan berdana.


Dalam Rangka waisak ini kami umat Buddha Vihara Dhamma Sasana Kenteng, Kec. Susukan Kab. Semarang Jawa Tengah Mengajak Bapak ibu/saudara/saudari SeDhamma Untuk Menanam Jasa - Jasa Kebajikan Melalui Acara Penyalaan Seribu Lilin Waisak 2557 BE tanggal 24 mei 2013 pukul 20. 00 wib s/d selesai.
1 kupon : 5 rb satu Lilin.
 
dana bisa di transfer ke BANK BRI : 6043 - 01 - 007973 - 531
A/n : Vihara Dhamma Sasana.
Terima Kasih
 * Untuk rekening lain selain BRI silahkan menghubungi 0813 1030 7553  
Segenap Umat Buddha Vihara Dhamma Sasana mengucapkan Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak  2557 BE / 2013.
Semoga berkah Waisak menyertai kita semua.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Sadhu .... Sadhu .... Sadhu ....

[ Baca Selengkapnya... ]

Puisi Menyambut Waisak

Nammo Buddhaya
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin menuliskan puisi yang tanpa sengaja saya temukan di tumpukan file saya, entah darimana asalnya, yang saya ingat dulu saya memang pernah mencarikan puisi untuk keponakan saya akan tetapi saya sudah lupa sumbernya.
Setelah saya simak kembali ternyata puisi tersebut bertema Hari Raya Tri Suci Waisak. Puisi tersebut berjudul " Dimulai Saat Ini " silahkan disimak.



Dimulai .....Saat Ini! 

Berhari, berbulan, bertahun
Lewat semua
Aku berdiri diam
Kemarin maju, tapi hari sebelumnya mundur
Minggu lalu maju berlangkah-langkah
Bulan lalu lari berjarak-jarak
Sepanjang ingatanku tahun-tahun berlalu
aku hanya diam saja
bahkan melumpurkan diri ke kubangan
Hari ini aku berasa tidak bergerak
hanya maju mundur
kurang lebih aku di tempat semula
tempat bersarangnya pandangan dan
kebiasaan lama

Di masaku,
Banyak Hari Waisak kuperingati
Dengan setelan putihku yang cantik
bersih, karena kusiapkan berapa minggu lalu
Berapa banyak bunga yang kubeli
kurangkai indah di atas altar
Kuyakin rupang-rupang di meja altarku
bersih berkilau
Aku hafal benar kebiasaanku
aku akan pasang dupa, menyala juga lilin
Tidak lupa wangi kayu cendana
Berpiring buah-buahan segar
Aku berparitta

Hari ini
Aku masuk ke pintu vihara
Bersetelan putih licin kena setrika
Aku tahu aku akan mengulang kebiasaan lama
Sudah hafal betul upacaranya
Paradaksina, aku lakukan pasti
dengan antusias, walau berbaris-baris,
berpeluhan, kadang melepuh api lilin dan dupa

Sudah banyak, berkali kulakukan
Setelah selesai aku dan yang lainnya berucapan
seperti ucapan selamat ulang tahun
selamat Waisak,....selamat Waisak.!
Aku hafal semuanya

Tapi sekarang aku di pintu vihara,
berbalut putih putih
Berapa lagi Hari Waisak kan aku ikuti?
Buat apa aku berprilaku seperti ini,
rutinitas dan ritual kuhafal
Aku menjadi takut,
menyadari bahwa aku telah berjalan
naik dan turun di tempat yang sama
dan tidak pernah benar-benar mencapai apa-apa
Aku terhenyak,
Aku diam kali ini, dan berpikir...
Hariku begitu bernilai
Bathinku tidak bergerak maju
Aku hanya si pelaku ritual
Dhamma kurang kupahami,
Meditasi buatku berkhayal atau lelap

Aku masih di pintu,
Tidak mungkin mundur ke belakang
Merubah masa lalu
Tapi aku punya hari ini
Waisakku yang baru
Saatku berharga,
Kumulai dari pintu
Pintu mata, telingaku...juga
seluruh inderaku
Kusadari aku ada saat ini
terlahir sebagai manusia
dalam suburnya Buddha Sassana
Sadar
Untuk menjadi maju,
sila, Dana, samadhi

Guruku yang kuhormati dengan
ritualku,
memberi jalan
mencurahkan Dhamma yang indah
bukan untuk dikagumi,
bukan untuk diperingati sebagai hari merah,
atau upacara berprosesi.
Jalan, pembebasan penderitaan,
meraih Nibanna
di kehidupan mulia ini

Saat ini di pintu vihara,
Aku akan masuk, duduk, ikuti
prosesi, ritual berbeda
karena aku sadari,
aku maju saat ini,
dan terus bergerak maju
Rasa dhamma, kebahagiaan samadhi
kebahagiaan menuju pembebasan
Dimulai...saat ini!

Demikian sepenggal puisi berkaitan dengan Hari Waisak, meski tanpa menyebutkan sumbernya saya berharap dapat bermanfaat bagi orang lain.

Nammo Buddhaya

[ Baca Selengkapnya... ]

Puisi Buddhist " Carilah itu "


Nammo Buddhaya
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin menuliskan puisi yang tanpa sengaja saya temukan di tumpukan file saya, entah darimana asalnya, yang saya ingat dulu saya memang pernah mencarikan puisi untuk keponakan saya akan tetapi saya sudah lupa sumbernya.
Namun ada baiknya saya share puisi tersebut untuk orang lain yang membutuhkan, meski tanpa menyebutkan sumbernya saya berharap dapat bermanfaat bagi orang lain. Puisi tersebut berjudul " Carilah Itu "


Carilah itu...!

Ketika banyak rasa gelisah
Kepala penuh pertanyaan dan rasa tak bahagia
terjawab ketika mata dan telinga
keluar dari perlindungan istana

Tangisan, kesakitan, darah, bau bangkai,
kepedihan, dan kemiskinan nyata di bola mata.
Apa yang dicari?
Apa yang dimau?
Pertanyaan itu lama berkeliaran di kepala
dan akhirnya..

KakiNya meninggalkan kursi emasnya,
berjalan menapaki rerumputan basah dan
bebatuan panas yang melepuhkan kulit

Perutnya yang mengering
kulitnya menghitam
Panas menghujam dan hujan membanjur saat meditasinya
Kejahatan mara merongrongNya
hingga jawaban didapat

PenampakanNya sangat bercahaya
"Aku adalah Yang Telah Tercerahkan Sempurna,
Sang Arahat, Sang Buddha,
Inilah Empat kebenaran Ariya."

Dengar kata-kata itu dengan bijak
Jadilah makhluk yang memiliki sedikit debu di mata

Indahnya Dhamma bukan untuk dikagumi
Nyanyian paritha bukan untuk penyejuk hati
Puitisnya Dhammapada bukan apresiasi seni
Bukan untuk kegebiraan Roda Dhamma
Tapi untuk penghentian selamanya
Tidak ada lagi penderitaan
Tidak ada lagi yang muncul dan lenyap
Carilah itu!


[ Baca Selengkapnya... ]

Download Lagu Buddhist Gratis

Download Lagu Buddhist Gratis


Note : CARA DOWNLOAD LAGU BUDDHIST
Klik aja di judul lagu yang hendak di download nanti akan terbuka halaman baru, cari tombol download dan klik tombol tersebut.

[ Baca Selengkapnya... ]

Bendera

Bendera

Tukang Taman

PENGUMUMAN

1. Perubahan Rekening Dana
Bagi umat yang ingin berdana harap menghubungi Admin terlebih dahulu karena ada perubahan Nomor Rekening. Hubungi Admin di 0813 1030 7553

2. Tentang Iklan
Kami tidak bertanggung atas segala bentuk iklan, isi konten dalam iklan, dll. Kami hanya menyediakan tempat untuk pengiklan dan kami tidak mengetahui isi iklan karena yang memasang iklan adalah pihak ketiga.

Aneka Bisnis

Populer

Menjadi Teman Saya

 
Powered by Blogger.com | 2008 Copyright Pemuda Buddhist Indonesia All Reserved Cah Semarang Weblog | E-mail: ari.complex@yahoo.co.id